TaK Adil, Satpol PP Kan Juga Manusia!

Anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan Wilayatul Hisbah (WH) Kota Banda Aceh, berkabung dengan memasang pita hitam di lengan baju, Selasa (13/7). Aksi tersebut dilakukan terkait operasi penertiban di kawasan Luengbata yang berakhir ricuh beberapa waktu lalu. SERAMBI/BEDU SAINI

Kita tahu semua…bahwa dizaman yang sedang di landa krisis global ini mengakibatkan  polemik baru seperti untuk mencari pekerjaan pun, kian susah dan di tambah lagi dengan kebutuhan pokok  yang kian melangit seakan tak berpihak pada rakyat kecil yang tak mampu…!!

Menjadi satpol PP bukan lah suatu keinginan atau lah cita-cita banyak orang, tapi tidak lebih disebabkan oleh sempitnya lapangan pekerjaan dan juga himpitan ekonomi yang kian terus melanda.

Tugas yang di ”emban”  para Satpol PP bukan lah pekerjaan yang mudah namun cukup sulit yaitu menertibkan para pedagang kaki lima yang mendirikan lapak liar yang mengakibatkan terganggu nya  ketertiban umum serta juga menertibkan bangunan liar lain nya yang beresiko terjadi nya bentrok..!!

Mari…!!coba kita renungkan bersama-sama bahwa sudah menjadi penyakit masyarakat yang mendirikan bengunan liar bahkan untuk di daerah hutan lindung sekalipun. Mendirikan lapak disekitar Kaki Lima yang tidak beraturan sehingga menyebabkan terganggu nya ketertiban umum…yaa..walaupun kita sadari juga bahwa mereka juga sama tujuannya yaitu mencari rezeki tapi kan tidak mesti mengganggu kepentingan orang banyak juga…atau setidak nya tidak merugikan orang lain.

Inilah yang sedang terjadi sekarang…ketika para Satpol PP akan melakukan penertiban, mereka akan selalu dihadang oleh para pemrotes yang padahal telah diberikan peringatan sebelum nya.,..dengan memegang senjata tajam seperti parang, tombak, serta alat tumpul lain nya melawan para Satpol PP yang hanya bermodal kan baju dinasNya…

Amukan massa yang jumlah nya banyak terhadap para Satpol PP ini mengakibatkan banyak memakan korban luka serta tewas di pihak Satpol PP yang sama sekali tak memiliki senjata…Terkadang mereka harus meregang nyawa hanya demi sesuap nasi untuk di bawa pulang ke anak dan istri nya, ditambah lagi ketiadaannya peduli instansi pemerintah pada mereka yang menjadi korban…!!!

Pemko tidak peduli pada nasib kami pascakisruh di Luengbata yang terjadi Kamis (8/7) lalu itu. Itulah petikan wawancara dari suatau surat kabar lokal Aceh  ketika mewancarai salah seorang Satpol PP yang menjadi korban pasca kerisuhan yang terjadi di Leungbata, Berikut  juga petikan salah seorang dari satpol PP pasca kerisuhan yang terjadi di Leungbata, Aceh. Kami hanya bingung, malah ada yang trauma psikis. Dua rekan kami yang berada di mobil beko dan seorang lagi sebagai sopir pada kendaraan patroli Satpol PP yang rusak itu kini trauma. Mereka terkena lemparan batu di dada, sedangkan yang satu lagi terkena serpihan kaca saat bersembunyi di bawah setir mobil yang dirusak massa tersebut,” kata zul. “Kalau begini, mana jaminan perlindungan hukum bagi kami, jika nanti kami melakukan penertiban lagi,”

Usman masih menyimpan trauma. Saat melintas di lokasi peristiwa amuk massa itu, kejadian itu masih terbayang-bayang di benaknya. Ia sangat takut peristiwa itu terulang kembali. Padahal, ia mengaku tidak pernah berlaku kasar saat penertiban, sehingga ia dan kawan-kawan tak pantas diperlakukan seperti itu, hanya karena menjalankan tugas negara. Satpol PP kita termasuk ‘lembut’ dibandingkan di daerah lain,” ucapnya.

2 thoughts on “TaK Adil, Satpol PP Kan Juga Manusia!

  1. Menurut hemat saya, seharusnya pemerintah, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah setempat yang harus lebih sigap/tanggap untuk mengatasi hal tersebut. Masalah ini bukan hanya satu dua kali terjadi, yang namanya bentrokan antara SATPOL PP dan massa sudah terlalu sering terjadi di mana-mana. Sampai-sampai memakan korban dari kedua belah pihak. Sampai detik ini belum ada solusi yang jitu dari pihak pemerintah agar keduanya (SATPOL PP dan Pedagang Kaki Lima) tidak terjadi bentrokan setiap kali ada penggusuran. Satpol PP di sini sebagai alat negara yang hanya menjalankan tugas pemerintah, sementara para PKL bekerja mengais rejeki untuk menghidupi keluarganya. Seharusnya kita, semua pihak sama-sama menyadari akan kekeliruan/kesalahan diri kita masing-masing, sebab dengan begitu tidak akan pernah ada bentrok atau konflik di antara kita.

    Kalau mau REFRESHING klik di sini

  2. Ya bagaimana, kalo dari sudut pandang pemerintah sih ok juga, tapi balik lagi ketika kondisi masyarakat sduah terlalu jauhnya kesenjangan sosial, maka bentrok aksn semakin luas, karena memanng cari makan orang2 yang dengan catatan apapu mereka tetap salah untuk dengan cara mendirikan lapak2, itu balik lagi ya tetap pemerintah yang salah, karena brrti kan kalo ada masalah sptr ini brrti pendekatan terhadap mereka para pkl2 itu tidak ad solusi bisa jadi, ya kita tidak usah menutup mata bagaimana itu mafia pajak..kita2 ini yg usaha sendiri jug jadi ngeri bayar pajak..tepat sasaran kah itu adalah cermin saya kira..kalo kita masyarakat didepan hukum pastilah kalah, tetapi kalo ada kasus seperti tanjung priok tetap pemerintah yang salah..ya tergantung dari mana sudut pandang kita, tetapi sekali lagi pemerinta belum bisa mensejahterahkan masyarakat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s