Bank Pertanian Aceh, Mungkinkah?

Aceh yang beberapa waktu lalu kita ketahui telah melaksanakan refleksi 10 tahun musibah bencana Gempa dan Tsunami yang kegiatannya dipusatkan di Lapangan Blangpadang Kota Banda Aceh dihadiri Wakil Presiden Jusuf Kalla serta perwakilan 36 negara asing yang selama ini telah men-support pembangunan manusia dan pemberdayaan masyarakat pasca musibah bencana Gempa dan Tsunami hingga Aceh yang kini menjadi laboratorium dunia dalam hal mitigasi dan pengurangan resiko bencana.

Namun memperhatikan potensi Aceh dalam akses kesempatan ekonomi kini perlu baik-baik diperhatikan walau pembangunan yang telah dilakukan selama 10 tahun pasca musibah gempa dan tsunami mendapat apresiasi positif dari berbagai kalangan. Karena industri minyak dan gas menurun secara tajam maka mengembangkan sektor pertanian tentu menjadi prioritas seperti meliputi perkebunan, peternakan, kehutanan dan perikanan.

Dengan Aceh yang potensi terbesarnya hari ini ada di sektor pertanian sungguh ironis bila mengetahui rumah tangga pertanian di Aceh menurun 54.588 rumah tangga dengan persentase penurunan itu sebesar 7,81 persen berdasarkan Sensus Pertanian 2013 Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh. Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Aceh Jaya dalam berita yang pernah dimuatkan oleh serambi (27/9/2014) memberitahukan bahwa petani di kabupaten tersebut membutuhkan modal usaha demi mewujudkan sawah modern agar produktivitas hasilnya dapat meningkat. Bantuan diharapkan bisa melalui donatur, pinjaman dari bank dan bahkan bantuan dari pemerintah aceh. Disampaikan juga bahwa baru tersedia satu pilot projet percontohan yang dibangun di desa Padang Kecamatan Setia Bakti seluas sekitar 27 hektar. Sawah modern ini per hektar dapat memperoleh hasil panen sekitar 7 ton. Dan petani menghadapi kendala dalam segi modal usaha yang tidak memadai.

Aceh kini yang menyandang otomomi khusus menjadikan Pemerintah Aceh semestinya memainkan peran dan tanggung jawabnya yang lebih besar dalam pembangunan ekonomi pertanian dengan kesempatan dapat memiliki kewenangan untuk berinovasi dan kreasi secara bebas. Petani saat ini sering dihadapi dengan persoalan kebutuhan modal dalam merealisasikan kegiatan usahanya. Secara konseptual bahwa lembaga pembiayaan khusus di sektor pertanian akhir ini dapat dikategorikan urgen dan mendesak.

Beberapa alasan bahwa hari ini lembaga pembiayaan khusus disektor pertanian itu penting. Pertama, sektor pertanian mampu menyerap tenaga kerja, sumber pangan, pemasok bahan baku industri dan lainnya, bila ditinjau sangat strategis dalam segi pembangunan daerah sehingga bila dukungan modal dapat memadai akan mampu menjadikan sektor pertanian akan lebih ditingkatkan. Kedua, secara riil kita memperhatikan bahwa sektor pertanian mampu memberikan kontribusi besar bagi PDRB Aceh. Ketiga, minimnya alokasi kredit terhadap sektor pertanian menjadikan peluang usaha yang sangat besar untuk ekspansi pasar kredit pertanian karena masih menjadi perbincangan hangat dan belum basi.

Bank Pertanian di Aceh

Memperhatikan fakta bahwa alokasi kredit perbankan nasional terhadap pembiayaan di sektor pertanian masih minim berkisar antara 5,14 – 5,92 persen atau rata-rata 5,56 persen. Pangsa kredit sektor pertanian masih dibawah sektor perindustrian, perdagangan, dan jasa dunia usaha. Tentu terdapat berbagai dugaan mengapa alokasi kredit perbankan nasional terhadap sektor pertanian tidak begitu memadai.

Selama inipun Perbankan dalam struktural pembiayaan ditujukan ke Agibisnis Modern (berskala besar) dengan pertanian rakyat berskala kecil dan fokus perbankan lebih pada agribisnis modern (berskala besar) dan perkebunan besar bila dibandingkan dengan pertanian rakyat berskala kecil padahal secara fakta pelaku usaha pertanian umumnya petani menengah-kecil. Alasan yang tepat boleh jadi karena perbankan mengetahui pertanian penuh resiko, tergantung musim, dan belum tertata baik dalam harga komoditas pertanian yang sering naik-turun dan tidak adanya kepastian harga yang jelas.

Bagaimana seandainya pemerintah aceh dapat meninisiasikan berdirinya bank pertanian yang memiliki fungsi dan tugas sebagai lembaga pembiyaan khusus di sektor pertanian melihat bahwa permasalahan yang masih sering terjadi yaitu ketidak tersedianya modal bagi petani sering diberitakan dan menjadi makalah dalam laporan para akademisi. Memang telah ada Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKMA) yang memang lebih spesifik karena kemudahan proses, akses dekat dengan lokasi usaha tani, dan sebagainya. Namun demikian wacana untuk berdirinya Bank Pertanian sudah pernah berkali-kali disampaikan oleh Menteri Pertanian ditahun 2009 walau sampai hari ini belum terealisasikan tentu sungguh menarik apabila pemerintah aceh dapat memulainya dengan otonomi khusus tadi, bukankah Aceh sering menjadi laboratorium pemerintah pusat seperti misal Jaminan Kesahatan Aceh (JKA) yang dikuti oleh daerah lain dan JKRN untuk yang nasionalnya.

Di Indonesia tentu Bank Pertanian masih sebatas wacana namun sebaliknya di Malaysia telah lama mendirikan bank pertanian sejak 1969 yaitu sebuah bank yang melayani khusus disektor pertanian yang disebut Bank Pertanian Malaysia (BPM) demikian juga Thailand yang telah mempunyai bank khusus sektor pertanian juga sejak 1966 biasa disebut Bank For Agriculture and Agricultural Cooperation (BAAC). Seperti BAAC di Thailand memiliki tugas dalam penyaluran kredit sektor pertanian kepada rumah tangga petani, keberhasilan BAAC di Thailand karena didasari atas 2 tujuan utama yaitu dimana memaksimumkan jangkau petani dalam layanan kredit ke rumah tangga petani dan dalam bersamaan mampu menjaga keberlangsungan pelayanan dan operasional bank.

Negara lain di Asia juga telah ada Bank Pertanian seperti China, Korea dan Taiwan yang lembaga khusus dibentuk untuk mengayomi, melayani dan mendorong sektor pertanian. Di Korea bank pertanian disebut National Agricultural Cooperation dan National Agricultural Livestock. Lembaga ini membiayai pertanian jangka panjang dan menengah. Sedangkan di Taiwan lembaga keuangan khusus bank pertanian disebut Farmer’s Bank of China, Land Bank of Taiwan dan Cooperative Bank of Taiwan.

Mendirikan bank pertanian di Aceh bukanlah hal yang mudah seperti membalikkan telapak tangan, tentu dibutuhkan proses yang sulit serta rumit dalam upaya realisasinya mengingat bahwa wacana pendirian bank pertanian telah juga menjadi wacana di tingkat nasional dengan segala pro dan kontranya. Namun walau demikian demi mewujudkan akselerasi pembangunan pertanian di Aceh dengan Pemerintah Aceh yang telah menyampaikan bahwa sektor pertanian hari ini menjadi prioritas utama tentu tantangan ini mesti dapat diwacanakan dan direalisasikan memperhatikan kenyataan bahwa petani sering terkendala terhadap modal usaha. Mengharapakan segera terwujudnya Bank pertanian di Aceh masih bisa dikatakan mimpi namun keyakinan untuk mewujudkannya demi meningkatkan kesejahteraan petani serta rakyat dan kemajuan pertanian di Aceh adalah mimpi petani dan kita rakyat aceh semua. Wallahu ‘alam

Penulis: Muri Wandany,SP (alumnus Sosial Ekonomi Pertanian Unsyiah). email: muri.wandany@yahoo.com

 *tulisan tersebut dapat dipertanggung jawabkan secara fakta dan data. silahkan Share namun wajib memuatkan nama penulisnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s