#Coin4Australia

Koin Untuk Australia! Karakter, kultur dan Marwah Bangsa Aceh…

 

Kisah yang disampaikan oleh bang Alex Hidayat ini barangkali bisa mewakili wajah Aceh secara keseluruhan:

 

Beberapa kolega, kamerad, karib kerabat, 1-2 hari ini bertanya agak menggugat, perihal gonjang-ganjing galang koin sebagai reaksi statemen perdana menteri sebelah.

 

“Kenapa reaktif? Ngapain sih emosional begitu?”

Atau,

“Apa sebab ditanggapi serius, bro? Buat apa?”

Atau,

“Biasa aja lah. Jangan lebay. Gitu aja kok repot™”.

Nah, biar kucoba repot-repot menjawab gugatan tanya, yang sebenarnya tak repot kali jika mau repot-repot mengidentifikasi salah satu karakter, kultur, sejarah, dari sekian anak bangsa di republik ini.

 

Mari kuceritakan engkau satu peristiwa masa silam. Saat aku masih kecil. Di daerahku.

 

Ada dua pihak keluarga bertikai soal beberapa hektar tanah. Pertikaian itu konon sudah lama. Sejak aku masih menganggap perosotan dan papan jungkat-jungkit di Taman Kanak-kanak adalah pertanda sorga itu ada.

Kasus itu, saat aku sudah di bangku SD, makin memanas. Kedua pihak mengklaim sebagai ahli waris yang sah dari sekian hektar tanah. Akta jual-beli yang dipegang oleh satu pihak tidak sah sama sekali. Ibarat kompor dipanjangkan dan ditambah sumbu, api pertikaian makin menyala, makin seru. Musyawarah kekeluargaan tak mempan. Pihak-pihak adat pun angkat tangan. Tak ada jalan, selain naik perkara ke pengadilan, sebelum nanti berujung bacok-bacokan.

 

Tapi kasus itu padam begitu saja. Tak ada berkas pernah naik ke pengadilan. Seperti kompor meledak ditimpa goni basah, kasus itu menguap dalam angin sejarah.

 

Apa yang menyebabkan kasus itu kemudian selesai begitu saja?

Selembar kain kafan.

 

Salah satu anggota dari pihak yang bertikai, rupa-rupanya sudah begitu panas kepalanya, sudah begitu berhasrat agar tanah itu jadi hak milik mereka, sehingga keluar lah sebuah ucapan yang menjadi pemutus perkara: mengungkit kebaikan almarhum orang tua mereka dulu, yang pernah menyumbangkan kain kafan untuk anggota keluarga dari pihak yang lain yang meninggal dunia.

 

Akibat dari ucapan itu adalah kembalinya sekian meter kain kafan ke halaman rumah mereka. Diantarkan lunas sesuai panjang yang pernah diberikan. Tak cuma itu, tapi beserta akta jual beli yang diperkarakan dan pernyataan bahwa keluarga yang diungkit pemberian kain kafan itu menyatakan menarik diri dari kasus dan menyerahkan hak kepemilikan tanah kepada keluarga tersebut. Bertanda-tangan para ahli waris. Bermaterai. Sah secara hukum. Tak perlu dibawa perkara lagi ke majelis hukum.

 

Ditutup dengan sumpah: sejak saat itu, sebutir nasi setetes air pun haram mereka terima dari pihak keluarga tersebut beserta ahli warisnya. Jika tertelan setetes air sebutir nasi, tak jadi daging tak jadi darah, tak dimuntahkan jadi musibah.

 

Hanya karena diungkitnya selembar kain kafan, lalu sekian hektar tanah yang dipersengketakan, yang mati-matian dipertahankan, diserahkan sekalian. Bagi mereka, lebih baik mati dalam keadaan tak berharta, daripada terhina karena disungkit kain kafan yang sudah membusuk bersama jenazah keluarga mereka di liang lahat sana. Walau pun (seperti kudengar cerita-cerita orang-orang tua) jika kasus berlanjut, mereka akan menang terhadap tanah tersebut, seperti diyakini banyak warga. Namun, satu ucapan mengubah segalanya. Ada yang lebih penting rupanya dibanding berhektar tanah: harga diri dan kehormatan.

Sikap demikian, sikap mengungkit pemberian, adalah sikap tercela dalam kultur di daerah kami. Sebutan sikap itu adalah “meukuree'”, alias mengorek apa yang sudah ditanam. Mengungkit pemberian kain kafan, apalagi. Sebab yang diungkit adalah sebuah sumbangan, sebuah amalan dari orang tua mereka.

 

Seingatku, itu kali pertama aku mendengar istilah “jak sungket ija kafan” yang merupakan kiasan yang jarang digunakan, sejarang kasus seaib itu. Bahkan sanak-kerabat, beberapa anggota keluarga dari pihak pengungkit pun, malu dengan sikap begitu. Mereka mencoba membujuk agar sumpah ditarik dan kain kafan dikembalikan balik. Karena sehina-hina perasaan yang mengembalikan, lebih hina mereka menerima pengembalian.

 

Namun “narit ka teubit han jeut lee ta let”, adalah respon dingin yang mereka terima. Bermakna “ucapan sudah keluar, jangan dikejar kembali”.

Kisah itu memang tak banyak yang tahu, bahkan di generasiku sendiri. Jika saja bukan karena ada salah satu orang tua dalam keluarga besar, sebagai tuha peut yang mencoba menyelesaikan di daerah tersebut, aku sendiri tak akan pernah tahu. Walau kasus yang sama, pernah kudengar juga ada di beberapa tempat.

 

Namun aku masih ingat cerita itu, karena kiasan “jak sungket ija kafan” yang pertama kali kudengar. Makna kiasan ini dalam nian. Kain kafan, harga tak seberapamana. Dianya CUMA selembar kain pembalut jenazah. Namun itu lah busana penghabisan seorang manusia dalam adat dan agama di daerah kami. Itu lah pembalut badan, ketika nafas sudah terputus dan nyawa sudah menjadi selembar daun yang gugur dari pohon kehidupan. Maka, semurah apa pun harga, ketika ada yang bersikukuh hendak beramal dengan menyumbangkan, apalagi masih kerabat sendiri di kala hubungan masih baik, orang yang mereka hormati, lalu kemudian hari disungkit kain tak senilai harga dengan kain katun atau sutra, “sakitnya tuh di sini™” bagi pihak keluarga. Sepetak tanah pemberian bisa dikembalikan. Segenggam berlian, bisa dipulangkan. Atau malah, bisa menebalkan muka dan masa bodoh begitu saja. Bisa memaafkan tanpa beban. Tapi selembar kain kafan yang sudah terkubur beserta jenazah, sangat lah hina diungkit, seolah hendaknya kuburan digali dan kain kafan pemberian dahulu itu dikembalikan lagi. Mereka tebus kain kafan itu, dengan tanah sekalian, walau tak bisa menutup rasa luka di dalam dada.

 

Cerita lama ini adalah contoh dari sebuah karakter dalam sebuah kultur, yang anda suka tak suka, ada di republik ini. Karakter yang kukira juga bukan monopoli salah satu anak bangsa di negara ini, tapi juga ada dalam suku-suku bangsa lain.

 

Aku, anda, kalian, mereka, boleh saja menganggap tak penting kali gera’an koin yang mungkin sudah basi, sejak terlalu banyak gerakan koin sehabis kasus Prita Mulyasari. Atau, boleh saja sinis, skeptis, tak setuju atau malah anti dengan gerakan yang “emosional” atau mungkin ada yang berniat “cari sensasi”.

 

Tapi jangan lupakan soal satu hal yang membuat reaksi di Aceh menjadi begitu panas: statemen itu adalah soal musibah yang tak pernah diminta, tak juga ditagih donasinya dari salah satu negara saat itu. Belasan negara datang, mengalir seperti ratusan juta uang, yang sejumlah diantaranya dipakai untuk menguburkan jasad-jasad tak bernama. Jasad-jasad yang ahli waris mereka yang masih hidup hari ini. Mereka yang sampai lelang giok harga jutaan, sebagai bagian harta benda mereka, untuk menebus kembali “kain kafan” yang sudah pernah disumbangkan.

 

Mereka mungkin bukan orang-orang kaya. Mereka mungkin tak semua mampu diajak lagi beli Dakota untuk modal awal sebuah maskapai yang tak pernah mereka naiki, apalagi kelas eksekutifnya. Tak juga mampu kumpul emas untuk hiasan landmark sebuah negara, lalu bolak-balik mejeng naik maskapai paling bergengsi di negara ini untuk foto-foto di landmark tersebut. Tapi jangan lupakan: rasa harga diri dan kehormatan itu lah, yang hari ini kita sinisi, kita anggap lebay, yang pernah bikin sebuah maskapai besar dan sebuah tugu nasional tegak, membawa kebanggaan sebagai sebuah negara terbang di angkasa, menjulang kukuh di udara, sebagai tanda bergabung bersama jutaan anak bangsa lain di republik ini.

 

Jadi: kritiki lah dan awasi lah penggalangan, jika ada curiga atau syak-wasangka, tapi biar lah penggalangan recehan dan lelang giok menjadi sebuah simbol dari mereka di sini, dari satu karakter anak bangsa negeri ini, untuk memberitahu bahwa di republik ini masih ada agak segenggam harga diri tersisa.

 

Semoga penggalangan sukses. Mari sumbangkan sekalian potongan lirik lagu dari Aceh untuk Padoeka Jang Moelia Perdana Daripada Menteri di negara Aborigin sana, untuk direnungkan jadi pelajaran jaga lisan di masa depan.

 

Ta meututo bek leupah –leupah

Peulara lidah yoh goh meu singklet

Seubab narit teubit lam babah

Meunyoe ka leupah han ek le ta let

Menyoe jalo jeut tapeu siblah

Teulanjo lidah jeut keu peunyaket

Lileeh minyeuk bak leupah dah

Oh leupah peugah sosah sosah takawet

Teutop ngoen duroe asoe jeut taplah

Itop ngon babah leupah that saket

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s